Selasa, 31 Mac 2009

Kendalikan Nafsu, Itu Jalan Ke Surga

(dakwatuna.com)

Setiap kali kita berbiacara tentang puasa selalu kita teringat tentang pengendalian nafsu. Sebab puasa adalah ibadah mengendalikan nafsu. Dalam Al Qur’an masalah pengendalian nafsu adalah masalah penting. Dan bahkan Allah swt. menegaskan bahwa mengendalikan nafsu adalah jalan ke surga. Dalam surah An Nazi’at:40-41 Allah berfirman: Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya). Ayat ini menunjukkan beberapa makna:

Pertama, bahwa setiap manusia dihadapkan kepada dua kekuatan yang saling tarik-menarik: kekuatan takut kepada Allah dan kekuatan hawa nafsu. Bila takutnya kepada Allah lebih kuat, maka ia akan mengendalikan nafsunya. Begitu nafsu dikendalikan, syetan tidak berdaya menggodanya. Ketika syetan tidak berdaya, maka amalnya akan selalu baik. Karena itu dalam bulan Ramadhan kita menyaksikan masjid-masjid penuh, siang maupun malam. Dan suasana seperti itu sulit kita temukan di luar Ramadhan. Sebab begitu nafsu makan dibuka, syetan kembali berkuasa. Karena itu sebagian ulama mengatakan bahwa dari dibukanya nafsu makan terbuka otomatis pintu-pintu syetan untuk menguasai manusia. Jelasnya bahwa dengan kuatnya rasa takut kepada Allah yang pertama kali akan dikendalikan nafsu. Lalu dari sini pintu-pintu kebaikan akan terbuka lebar. Bila amal baik terus-menerus dilakukan secara istiqamah, maka ia akan masuk surga.

Kedua, menguatkan rasa takut kepada Allah (khaafa maqaama rabbihi) adalah modal utama untuk senantiasa istiqamah bermal saleh. Karena itu dalam Al Qur’an Allah swt. Selalu menekankan pentingnya membangun al kahuf atau al khasyyah ini. Pada ayat sebelumnya di surat An Nazi’at juga, Allah swt. memerintahkan Nabi Musa agar mengajak Fir’un supaya takut kepada Allah. Sebab dengan takut kepada Allah Fir’un tidak akan bertindak sombong lagi. Jadi sikap sombongnya Fira’un mucul karena tidak adanya khasyyah. Dan khasyyah tidak akan muncul tanpa ilmu, Allah berfirman innama yakhsyallahu min ibaadihil ulamaa’u (sesungguhnya hanya orang yang punya ilmu yang takut kepada Allah) (QS. Fathir:28). Karena itu Nabi Musa diutus untuk mengajarkan kepada Fir’aun hakikat kekuasaan Allah swt. Sampai-sampai Nabi Musa menunjukkan mukjizatnya yang agung (al aayatal kubraa) hanya untuk meyakinkan Fir’aun, tetapi ternyata Fir’aun tetap bertahan dalam kekafiran. Bahkan Fir’aun malah mendeklarasikan dirinya sebagai tuhan dengan berkata: ana rabbukumul a’laa (aku tuhanmu yang paling tinggi). Suatu kenyataan bahwa tanpa rasa takut yang kuat nafsu akan berkuasa. Puncak gejolak nafsu adalah kesombongan. Allah lalu menjelaskan bahwa dalam peruistiwa Fir’aun terdapat pelajaran bagi orang yang takut kepada Allah. Lagi-lagi masalah takut khasyyah dipertagas oleh Allah swt. Menunjukkan betapa pentingnya membangun rasa takut untuk mecapai ketaatan yang maksimal.

Ketiga, mengendalikan nafsu adalah kata kunci untuk mencapai surga. Karena itu dalam ayat di atas Allah swt. langsung menegaskan: fainnal jannata hiyal ma’wa. Bahwa hanya dengan mengendalikan nafsu seseorang akan menjadi baik dan penuh amal saleh. Berbagai kemaksiatan yang menghancurkan hidup manusia, itu pasti ujung-ujungnya adalah karena ikut nafsu. Dengan demikian tidak ada kebaikan sama sekali bila ternyata nafsu dibebaskan tanpa kendali. Ibadah puasa membuktikan bahwa mengendalikan nafsu bukan suatu yang mustahil. Lebih-lebih bahwa pengendalian nafsu ketika puasa adalah pengendalian dari halal. Maka dengan ibadah puasa kelak tidak ada alasan untuk berbuat yang haram. Artinya bisa dikatakan kepada mereka: engkau telah menahan nafsu dari yang halal, maka tidak ada alasan bagimu untuk melaukan yang haram. Ini suatu bukti, bahwa nafsu sebenarnya sangat lemah. Nafsu tidak akan mampu memaksa seseorang melakukan dosa. Bisa ada seseorang yang terjerumus dosa itu bukan karena dahsyatnya nafsu, melainkan kerena lemahnya iman. Dengan demikian jalan satu-satunya untuk mengendalikan nafsu adalah kuatkan iman, Karena itu Allah panggil yaa ayyuhalladziina aamanuu (wahai orang yang beriman) dalam perintah puasa pada ayat 183 surah Al Baqarah. Suatu indikasi bahwa hanya orang-orang yang kuat imannya yang akan bersungguh-sungguh mengendakikan nafsunya. Wallahu’alm bishshawab.

“Perang Keinginan”

Oleh: Fahmi Islam Jiwanto, MA
(dakwatuna.com)

Manusia hidup dan digerakkan oleh keinginan. Waktu dan segala yang dimiliki manusia dikonsumsi dan dipergunakan untuk merealisasikan keinginan. Tetapi sebuah pertanyaan menghadang kenyataan aksiomatis ini; yaitu keinginan seperti apa dan keinginan siapa yang patut selalu diikuti?

Manusia dalam posisinya dengan keinginan terbahagi menjadi beberapa golongan:

Pertama, manusia yang hanya mengikuti keinginan dirinya. Tidak ada yang penting baginya kecuali yang dia mahu. Barangkali dia mengira bahwa dirinya merdeka. Merdeka menentukan segala yang dia mahu. Merdeka juga berfikir apa saja yang dia bayangkan. Kebebasan memang penting untuk membentuk keperibadian. Tanpa independensi seorang manusia hanyalah angka satu yang tidak terlalu penting di tengah jutaan manusia. Tetapi kebebasan ada batasnya. Manusia yang tidak mengenal batas dirinya cenderung egois dan egosentris. Lebih jauh bahkan al-Qur’an menyebut manusia seperti ini sebagai manusia yang menyembah hawa nafsunya. Allah berfirman di surat al-Jatsiyah ayat 23:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (23)

23. “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu, dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS al-Jatsiyah (45): 23)

Rasulullah SAW juga menyebut orang yang hanya mengikuti hawa nafsunya sebagai orang yang lemah.

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ. رواه الترمذي وابن ماجه وأحمد

“Orang yang pandai (kayyis) adalah yang mengendalikan dirinya dan beramal untuk (kehidupan) setelah kematian, sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya tapi banyak berangan-angan atas (kurnia) Allah.” (HR at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Kedua, manusia yang tidak punya keinginan kebebasan. Dia selalu didorong oleh pihak luar. Lingkungan, rakan-rakan, orang tua, bahkan seterunya, selalu menjadi pusat perhatiannya, dan selalu mendorongnya untuk bereaksi. Orang seperti ini tidak punya pendirian. Apa kata orang itulah katanya. Ke manapun angin berhembus ke sanalah dia berlayar. Orang seperti ini sangat dikecam Rasulullah, Baginda bersabda:

لَا تَكُونُوا إِمَّعَةً تَقُولُونَ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا وَإِنْ أَسَاءُوا فَلَا تَظْلِمُوا. رواه الترمذي

“Janganlah kalian menjadi orang tidak berpendirian, yang mengatakan ‘jika orang-orang berbuat baik, kami juga berbuat baik, jika mereka berbuat zhalim, kami juga berbuat zhalim.’ Tetapi kuatkanlah pendirian kalian, jika orang-orang berbuat baik, berbuat baiklah, jika mereka berbuat zhalim, jangan kalian berbuat zhalim.” (HR at-Tirmidzi)

Ketiga, manusia yang selalu berperang antara kemahuan dirinya dan kemahuan orang lain, dan juga kemahuan Sang Pencipta. Dia selalu ingin mendapatkan penerimaan semua pihak tetapi tidak rela mengorbankan keinginan dan ambisi atau syahwatnya. Golongan seperti ini selalu diombang-ambingkan dengan ketidakpastian tujuan. Peperangan sengit dan rumit terjadi dalam diri mereka. Yang mampu menemukan dirinya dalam naungan Allah akan selamat, tetapi yang terus tak mampu menemukan skala prioriti akan hidup dalam pederitaan batin dan gejolak pemikiran yang tak berakhir. Allah membuat perumpamaan terhadap orang seperti ini:

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ الزمر: 29

29.” Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS az-Zumar(39): 29)

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ جَعَلَ الْهُمُومَ هَمًّا وَاحِدًا هَمَّ آخِرَتِهِ كَفَاهُ اللَّهُ هَمَّ دُنْيَاهُ وَمَنْ تَشَعَّبَتْ بِهِ الْهُمُومُ فِي أَحْوَالِ الدُّنْيَا لَمْ يُبَالِ اللَّهُ فِي أَيِّ أَوْدِيَتِهَا هَلَكَ. رواه ابن ماجه والحاكم وحسنه الألباني

“Barang siapa yang menjadikan pikiran-pikirannya menjadi satu pikiran yaitu pikiran akhirat, Allah cukupkan masalah dunianya. Dan barang siapa yang pikirannya bercabang-cabang di urusan dunia, Allah tidak perduli di lembah dunia mana dia akan binasa.” (HR Ibnu Majah dan al-Hakim dihasankan oleh al-Albani)

Semoga Allah menyelamatkan kita dari musibah seperti itu.

Keempat, manusia yang menenggelamkan dirinya dalam keinginan Sang Pencipta. Dia hanya menginginkan keridhaan Allah. Dia tahu bahawa dia hanya makhluk yang diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Manusia golongan ini adalah manusia luhur dan suci. Mereka menghayati firman Allah “Katakanlah bahawa sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam.”

Tetapi beberapa tentangan serius menghadapi mereka. Tidak sedikit kegagalan terjadi jika anak Adam ini tidak berhasil menghadapi tentangan-tentangan tersebut.

Tentangan pertama adalah tentangan pemahaman. Sejauh mana anak manusia memahami apa yang Allah SWT tuntut darinya. Berapa banyak orang yang serius beribadah bahkan mengorbankan segala yang dia miliki untuk sesuatu hal yang sebetulnya tidak dituntut darinya. Betapa banyak kewajiban ditinggalkan karena melaksanakan ibadah sunah yang tidak prioriti dalam neraca Syariah. Betapa banyak kewajiban kolektif diabaikan padahal itu menyangkut kepentingan umum disebabkan sang manusia lebih asyik dengan ibadah personal yang bahagiannya boleh dikurangkan. Betapa banyak bid’ah yang dianggap sunnah. Betapa banyak sunnah yang dianggap bid’ah.

Tanpa berpegang teguh pada pemahaman yang benar terhadap Qur’an dan Sunnah, sangat sulit seorang muslim dapat dengan tepat melaksanakan peranan dan tugas yang dituntut darinya.

Kesalahan yang paling parah adalah yang terjadi pada golongan yang menganggap bahawa penyerahan diri terhadap Allah adalah bersikap fatal atau yang dikenal dengan kaum Jabbariyah. Bahwa manusia hanya dituntut menyerah pada takdir, tidak perlu berusaha atau merencanakan masa depan yang baik. Iman kepada takdir mereka fahami sebagai sikap pasif terhadap usaha perubahan.

Umar bin Khaththab pernah begitu gusar dengan pemahaman seperti ini, ketika beliau dan beberapa sahabat hendak memasuki daerah yang dilanda wabak. Setelah bermusyawarah akhirnya diputuskan untuk membatalkan kunjungan ke daerah tersebut. Salah seorang sahabat menentang keputusan itu, dan berkata, “Apakah kita lari dari takdir Allah?” Umar bin Khaththab terkejut dengan tanggapan tersebut, lalu menjawab, “Ya kita lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain.”

Allah mengecam orang-orang yang menggunakan takdir sebagai alasan untuk tidak melaksanakan hal-hal yang seharusnya. Allah berfirman:

سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آَبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ حَتَّى ذَاقُوا بَأْسَنَا قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَخْرُصُونَ

148. “Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, niscaya Kami dan bapak-bapak Kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) Kami mengharamkan barang sesuatu apapun.” Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para Rasul) sampai mereka merasakan siksaan kami. Katakanlah: “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada kami?” Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta.”(QS al-An’am (6): 148)

Iman kepada takdir adalah kebenaran yang wajib diyakini, tetapi hal itu dimaksudkan agar kita tidak terjajah oleh masa lalu, tersiksa oleh penderitaan masa yang telah lepas, atau tertipu oleh sesuatu yang membuat kita terlena. Allah jelaskan dalam surat al-Hadid apa yang dimaksudkan dengan iman kepada takdir, Allah berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (22) لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آَتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

22. “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.23. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS al-Hadid (57): 22-23)

Iman kepada takdir membuat seorang muslim tidak tenggelam dalam penderitaan atau tertipu oleh kenikmatan, karena dia sedar bahawa itu semua sudah ditetapkan oleh Sang Pencipta, Yang Maha Bijaksana dan semua yang Allah tetapkan selalu menyimpan hikmah dan kebijaksanaan. Pendek kata iman kepada takdir dapat menghindarkan sesorang dari pedihnya keputus-asaan dan tipuan kesombongan. Di sisi lain Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berbuat untuk kebaikan dirinya. Rasulullah SAW bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَان. رواه مسلم

“Bersunguh-sungguhlah meraih hal yang bermanfaat untukmu, mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan melemah. Jika Sesuatu menimpamu janganlah engkau berkata, ‘jika dulu aku lakukan ini pasti terjadi begini atau begitu.’ Tetapi katakanlah, Allah sudah menakdirkan, dan apa yang Allah kehendaki pasti terjadi. Kerana perkataan ‘kalau’ membuka perbuatan setan[1].” (HR Muslim)

Kesalahfahaman lain yang sering terjadi dalam beribadah juga adalah pemahaman bahwa ibadah hanyalah terbatas pada hal-hal ritual. Banyak umat Islam yang masih belum memahami universaliti Islam, bahawa perintah Allah juga mencakup segala kebaikan di perbagai aspek kehidupan. Dengan ringan tangan banyak muslim yang menginfakkan jutaan ringgit untuk pergi haji atau umrah. Tetapi jumlah seperti itu sulit didapatkan untuk membangun projek-projek yang berkaitan dengan kemaslahatan bersama. Umat Islam sedar kalau sholat mereka batal kalau mereka berhadas, tetapi banyak tidak khuawatir seluruh amalnya batal karena rasuah, kronism dan menipu.

Kesalahfahaman yang juga banyak terjadi adalah berlebih-lebihan dan beragama. Ada yang berwudhu tapi sambil membuang air dengan mumbazir, ada yang sibuk mengucapkan niat sampai tidak bisa mengikuti sholat dengan baik dan khusyu’, ada yang sibuk dengan memendekkan pakaian sampai lupa memperhatikan hati dan memperbaiki akhlak. Ada yang terlalu berlebihan dalam masalah-masalah aqidah sampai mengkafirkan sebahagian besar umat Islam. Ada yang begitu membenci kekafiran tetapi lupa berdakwah dengan hikmah dan nasihat yang baik. Begitu bahayanya sikap berlebih-lebihan dalam agama sampai Rasulullah SAW memperingatkan:

وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ. رواه النسائي وابن ماجه والبيهقي والطبراني في الكبير وابن حبان وابن خزيمة وصححه الألباني

“Jauhkan diri kalian dari berlebih-lebihan dalam agama. Sesungguhnya berlebih-lebihan dalam agama telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.” (HR an-Nasa’I, Ibnu Majah, al-Baihaqi, at-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, Ibnu Hibban, dan Ibnu Khuzaimah, dan dishahihkan oleh al-Albani)

Begitu banyak kesalahan dalam beribadah terjadi kerana ketidakfahaman terhadap Islam. Sebahagian besar bersumberkan dari jauhnya umat Islam dari pemahaman yang baik terhadap Qur’an dan Sunnah. Jarak yang terjadi bervariasi, mulai dari yang tidak pernah membaca al-Qur’an sama sekali, sampai yang membaca tetapi tidak memahami maknanya. Ada yang memahami sebagian kecil lalu merasa cukup dan merasa sudah pandai, bahkan mengira bahawa Islam hanya terangkum dalam beberapa ayat dan hadith. Ada yang mengaku mengerti al-Qur’an dan meninggalkan Hadith. Ada juga yang serius dengan hadith Nabi SAW tapi justeru meninggalkan al-Qur’an dengan tidak mentadabburi al-Qur’an dengan rutin.

Apakah itu semua terjadi kerana memahami agama Islam itu sulit? Sama sekali tidak. Tetapi siapapun yang menghendaki suatu tempat tapi tidak melalui jalan yang sesuai pasti tidak akan sampai tujuan. Seperti dikatakan oleh seorang penyair:

تَرْجُو النَّجَاةَ وَلَمْ تَسْلُكْ مَسَالِكَهَا إِنَّ السَّفِيْنَةَ لَمْ تَجْرِ عَلَى يَبَسِ

“Kau harap selamat tapi tidak menempuh jalannya

Sesungguhnya bahtera tidak berlayar di atas daratan kering”

Tentangan kedua dalam ibadah adalah diri manusia itu sendiri. Dia berhadapan dengan hawa nafsunya yang sering menggodanya untuk meninggalkan perintah Allah. Dia akan berhadapan godaan dari luar, tetapi semua terkait dengan kekuatan tekad dan keteguhan pendirian hamba Allah tersebut.

Ketika hawa nafsu mengajak kepada hal yang jelas dilarang barangkali masalah menjadi jelas. Yang lebih rumit adalah ketika hawa nafsu mengajak kepada hal yang samar (syubhat), disini dua persoalan merajut satu sama lain sehingga memperumitkan tentangan. Yang lebih rumit lagi adalah ketika hawa nafsu mendapatkan pembenaran yang palsu. Ketika dalil-dalil syar’I yang mutasyabihat (yang samar) dapat digunakan untuk membenarkan pelanggaran.

Semua tentangan itu tidak mudah. Karena itu ibadah seorang hamba tidak akan sempurna tanpa memohon pertolongan Allah. Oleh sebab itu jelas al-Fatihah yang harus diulang-ulang seorang muslim adalah: “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.” (Kepada Engkau kami menyembah, dan kepada Engkau kami memohon pertolongan). Seorang muslim yang menyembah Allah tanpa memohon pertolongan dari-Nya, nescaya akan terjebak dan terjatuh dalam tentangan-tentangan yang sulit dalam perjalan hidup yang penuh dengan ujian.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita. Wallahu waliyyut taufiq.
_______________________________________________________________________
[1] Yang dimaksud bahwa kalau membuka amal setan dalam hadits ini adalah menyesali masa lalu dan berandai-andai hingga menyiksa diri, padahal masa lalu tak akan diperbaiki hanya dengan penyesalan dan berndai-andai.

Isnin, 30 Mac 2009

Hidupku.....Pengembala Kambing

Assalamua'laikum warohmatullahi wabarokatuh
Innalhamdulillah......
Amma Ba'du,

Alhamdulillah, aku kini kembali untuk menulis di blog usang kepunyaanku ini (usang kerana dah lama tak nulis weiiii....!!!)

Aku kini sibuk untuk mengembala kambing....Haaaa kambing??
Ya aku kini menjadi pengembala kambing....Alhamdulillah kini kandangku dah diisi dengan 15 ekor kambing....

3 ekor jamnapari, 7 ekor kambing kampung, dan 5 ekor jenis feral. (Alamak dah macam nak citer tentang kambing lak)

Tujuan ku bukan nak bercerita tentang kambing peliharaan ku semata, namun untuk kita bersama mengambil pengajaran daripada binatang yang Allah jadikan untuk kita iaitu kambing!!!!

Dalam nak membela, sesetengah orang tu sangat rajin, ya sangat rajin pada awalnya, namun makin menurun semangatnya dalam menjalani hari, makin kering kesungguhannya, makin futur gerak kerjanya dalam nak membela kambing.

Ikhwah fillahu taala,
aku sebagai penternak kambing, sekiranya aku tidak memberi kambing ku makan, maka tiada sesiapa lagi yang akan memberinya makan. Sekiranya aku malas untuk bergerak 'mencerut' (baca : menyabit) rumput maka tiada sesiapa yang akan mencerutnya untuk ku.
Ikhwah yang aku cintai,
Cuba kita perhatikan akan gerak kerja kita dalam dakwah. Sebelumnya aku ingin mengingatkan ikhwah sekalian bahawa aku bukanlah orang yang hebat kiprahnya (baca : penglibatan) dalam dakwah. Namun mungkin dengan tulisan ini dapat aku boost-up kerja-kerja dakwah ku yang mendatang.
Ya kembali kepada pembicaraan kita tentang pengajaran daripada cerita kambing tadi, maka bersama kita fikirkan, ikhwah ku sekalian, umat ini sekarang sedang kelaparan, umat ini sedang kehausan, umat sedang dalam kepenatan dek kerana penangan dunia yang begitu kejam. Justeru umat kini sedang menunggu-nunggu untuk mendapatkan siraman air yang sejuk, nyaman, dan memberikan kesegaran dalam tubuh umat.
Air yang bisa mengalir kedalam dada umat, membersihkan dada umat ini daripada kekotoran dan penyakit yang sudah sekian lama membelenggu. Tubuh umat ini sudah cukup parah dan bernanah dengan segala macam penyakit yang bersarang. Lalu kitalah yang perlu menyalirkan air kepada umat, kitalah yang Allah berikan tanggungjawab untuk membawakan segelas air kepada umat ini. Kitalah yang Allah berikan telaga untuk kita kemudiannya segara bijak membagikan air telaga itu kepada seluruh manusia yang sedang kehausan yang berada di sekeliling kita.
Jika bukan kita, siapa lagi? jika bukan kita siapa lagi yang bisa mengekang umat daripada terus tersiksa dengan segala kudis dan kusta dikulit umat ini? Maha suci Allah yang telah memberikan peringatan kepada kita dengan peringatan yang sangat banyak. Memberikan perumpamaan kepada orang yang menyeru pada jalan Allah itu sebagai umat yang terbaik seperti mana dalam surah ali-Imraan :

"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (kerana kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf (kebaikan) dan mencegah dari yang mungkar (keburukan), dan beriman kepada Allah".
(Ali Imraan (3) : 110)

Ayat yang masyhur dikalangan para aktivis dakwah. Namun sejauh mana tuntutan ayat tersebut yang sudah kita lakukan, hak ayat tersebut untuk kita amalkan? (Ya Allah berikanlah aku kekuatan untuk beramal dgn ayat ini)

Maka ikhwah fillah rahimakumullah, belajarlah daripada apa yang ada disekitar kita, ambillah sebanyak mana hikmah yang bisa kita reguk daripada sumber yang suci dan murni (al-Quran dan Sunnah) dab berbagilah ia kepada umat di sekeliling mu. Mungkin kita tidak pandai berbicara, bisa saja menggunakan pena untuk memberikan air mujarak kepada umat. Tidak pandai menggunakan pena, gunakan segala yang ALLAH berikan hatta secangkir senyuman juga sangat bermanfaat dalam memberikan air yang mujarab yang insyaAllah akan mengubati penyakit umat ini....

Wassalamua'laikum warohmatullah.

Isnin, 29 Disember 2008

Ayuh Bangkitlah Saudara Ku.....Gapailah Syuhada....

Allahu akhbar...Allahu akhbar...Allahu Akhbar....
Sekali lagi Allah SWT memberikan cobaan yang berat dan perit kepada umat Islam, khususnya di Jalur Gaza, Palestin Tercinta. Agrewsi daripoada Zionis Israel la'natullah kembali menggila dengan makan korban kurang lebih 300 jiwa. Ya Allah bagaimanakah nasib saudara kami di sana?
Ikhwah wa akhowat sekalian, usah kita menunggu ikhtiar daripada PBB, usah kita menunggu ikhtiar daripada Liga Arab, Usah kita menunggu ikhtiar daripada OIC usah...usah...usah....Marilah kita ikhlaskan hati, betulkan niat, bersihkan diri emmohon kepada Allah Jalla wa "Ala akan kerdilnya kita pada waktu ini. Terzalimnya saudara2 kita di belahan bumi jalur Gaza.

Ikhwati Ilallah, sesungguhnya kita telah menunggu terlalu lama untuk kita sedar.....Selama ini, yang kita minta pertolongan adalah daripada PBB, daripada Liga Arab, daripada OIC dan segala macam lagi antek-antek Zionis La'natullah. maka sedarlah wahai ikhwah wa akhowat ku, kita minta pertolongan bukan kepada mereka, kita minta pertolongan hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Kepada Dia yang menciptakan diri aku dan diri kamu.

Wahai ikhwah Ilallah, gerakkanlah segala potensi yang ada pada diri kita, untuk kita serukan perang terhadap mereka yang bersekongkol dengan Zionis La'natullah. Teriakkan Genderang Jihad dengan segala apa yang kita terdaya, dengan segenap tenaga yang kita ada.Ikhwati Ilallah, ayuh kembali kobarkan Kempen Boikot Barangan Amerika, Kempen Menentang Dan Memulaukan Barangan Amerika, sebarkan ke seluruh alam akan risalah tentang kempen boikot, jangan kita tunggu lagi.

Ikhwati Rahmatullah,
Inilah usaha daripada kita yang tidak berdsaya untuk terjun ke medan sana. InsyaAllah tanamkan azam dan cita2 untuk bergerak dan turun ke medan, namun sekiranya kita tidak berdaya untuk ke sana gerakkansegala usaha yang perlu untuk kita bantu saudara2 kita yang sedang berjihad di sana.

Paling penting Ikhwah Fillah Rahimakumullah,
Jangan kita lupakan senjata kita yang paling ampun iaitu doa, solat hajat dan segala macam bentuk munajat kepada Allah, kita nyatakan, luahkan, adukan segala jerit perrih, pedih dan sakit kita kepada Dia yang MAha Kuasa, Dia yang menciptakan sekalian alam.

Moga sedikit usaha kita itu bisa meringankan beban sahabat2, saudara2 kita di sana.

Akhirul kalam, Allahu Ghayatuna, Ar-Rasull Qudwatuna, Al-Quran Dusturuna, Al-Jihad Sabiluna, Al-Mautu Fisabilillah Asma Amanina.

PALESTINA TERCINTA
Untuk mu jiwa2 kami,
Untuk mu darah kami,
Untuk mu jiwa dan darah kami,
Wahai Al-Aqsa tercinta,

Kami akan berjuang,
Demi kebangkitan Islam,
Kami rela berkorban,
Demi Islam yang mulia,

Untuk mu Palestina tercinta,
Kami peduli panggilanmu,
Untuk mu al-Aqsa yang mulia,
Kami kan terus bersama mu,

Ya Allah izinkanlah kami,
Berjihad di Palestina mu,
Ya Rabbi masukkanlah kami,
Tercatat sebagai syuhada mu.....

Amin Ya Rabbal A'lamin.....

Rabu, 10 Disember 2008

Adakah Istirahat dari Berjihad? (Bag II)

Abi AbduLLAAH

Al-Ikhwan.net | 31 May 2008 | 26 Jumadil Awal 1429 H

Turunnya NashruLLAH pada Para Mujahid yang Sabar Walaupun Sedikitnya Jumlah Mereka dan Ketidakbutuhan (Ketidakperluan) ALLAH SWT Terhadap Pertolongan Manusia

إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Berkata Imam Abu Ja’far: Ini adalah pernyataan ALLAH SWT kepada para sahabat Rasul SAW, bahwa IA lah yang bertanggung jawab menolong Nabi SAW dari musuh-musuh agama-NYA dan memenangkannya baik mereka membantu ataupun tidak, serta peringatan-NYA bahwa IA berkuasa menolong Nabi-NYA saat dalam jumlah sedikit (2 orang) dikepung musuh sedemikian banyak, maka apatah lagi saat kaum muslimin sudah banyak..?![1] Di dalam Shahih Bukhari & Muslim disebutkan bahwa Abubakar RA berkata pada Nabi SAW saat berada di dalam gua: Wahai RasuluLLAH, seandainya salah seorang dari mereka melihat melalui bawah kakinya maka niscaya mereka akan melihat kita. Maka Nabi SAW menjawab: Wahai Abu Bakar! Bagaimana dugaanmu tentang 2 orang yang ALLAH adalah yang ketiganya..?![2]

Dan semua perjuangan jihad yang dilakukan haruslah dengan niat yang ikhlas demi menolong agama ALLAH SWT dan menegakkan syari’ahnya, bukan demi kepentingan pribadi, harta, jabatan, dsb. Karena semua tujuan itu telah direndahkan dalam ayat ini, bahwa tujuan seorang mujahid haruslah menjadikan Kalimah ALLAH menjadi Tinggi dan Kalimah orang Kafir menjadi rendah. Dalam Ash-Shahihain disebutkan bahwa Nabi SAW ditanya tentang orang yang berjuang karena menunjukkan keberaniannya, ada pula yang karena fanatisme, ada pula yang karena ingin dipuji, maka kata nabi SAW: “Barangsiapa yang berjuang dengan niat untuk menegakkan Kalimah ALLAH menjadi Tinggi, maka itulah FII SABILILLAAH!”[3]

Dalam ayat ini juga diberikan sebuah contoh loyalitas dan tadhhiyyah luar biasa dari seorang jundi kepada qiyadahnya, kesetiaannya dalam berjihad di belakang qiyadahnya baik dalam keadaan lapang maupun sempit, susah maupun senang, semangat maupun malas. Imam Al-Qurthubi berkata dalam tafsirnya tentang makna ayat ini: Jika kalian tidak mau menolong Nabi SAW dalam perang Tabuk ini, maka sungguh ALLAAH SWT telah memberikan sahabat yang jauh lebih baik dari kalian (yaitu Abu Bakar RA), telah berkata Imam Laits bin Sa’d: ALLAAH SWT tidak memberikan seorang sahabat pada para Nabi yang lain yang lebih setia dari Abu Bakar RA, berkata Sufyan Ibnu ‘Uyainah: Abu Bakar RA adalah sahabat yang dijadikan contoh teladan tertinggi melalui ayat ini[4].
Jihad Harus Dilakukan Baik Saat Malas Maupun Semangat
انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Berkata Imam –muhyis sunnah- Al-Baghawy menyitir pendapat para sahabat Al Hasan, Adh-Dhahhak, Mujahid, Qatadah & Ikrimah bahwa makna khifafan wa tsiqalan: Syubbanan wa Syuyukhan (baik sudah tua atau muda); berkata Ibnu Abbas: Baik sedang semangat maupun malas; berkata ‘Athiyyah Al-Aufy: Baik punya kendaraan ataupun berjalan kaki; berkata Abu Shalih: Baik miskin maupun kaya; berkata Ibnu Zayd: Baik ada yang dikuatirkan maupun tidak ada yang ditakutkan[5]. Imam Ibnu Katsir menambahkan, berkata Al-Hakam Ibnu ‘Utaybah: Sedang sibuk maupun tidak sibuk, bahkan ada seorang yang minta izin tidak ikut berjihad karena badannya yang amat gemuk bernama Al-Miqdad tetapi ALLAAH SWT malah menurunkan ayat ini[6]. Sayyid Quthb menambahkan: Demikianlah contoh-contoh totalitas para sahabat Nabi SAW dalam jihad menegakkan Kalimah ALLAAH, sehingga berkembanglah Islam dengan cepatnya dan semerbaklah dunia dengan cahayanya, bergeraklah semua hati-hati manusia dari penyembahan manusia atas manusia, menuju penyembahan hanya kepada ALLAAH SWT saja, dari kerendahan perbudakan agama-agama menuju ketinggian dan kesucian Islam, dan berakhirnya jihad adalah setelah ia berhasil membebaskan hati manusia kepada kemerdekaannya yang abadi, yaitu hanya tunduk dan merendahkan diri di hadapan Pencipta-NYA[7].
Imam Asy Syaukani menambahkan bahwa ayat ini bersifat muhkamat sehingga tidak ada nasakh baginya, hanyalah diberikan kelonggaran bagi mereka yang disebutkan dalam QS At-Taubah, 9:91 dan An-Nur, 24:122 saja[8]. Dalam ayat ini pula dikenal riwayat seorang sahabat yang lanjut usia bernama Abu Thalhah RA, demikian tuanya sehingga alisnya seluruhnya telah putih dan jatuh dimatanya, saat membaca ayat ini ia berkata: Jahhizuni ya bunayya..! (Siapkanlah bekalku wahai anak-anakku), maka berkatalah anak-anaknya: yarhamukaLLAAH..! Sungguh engkau telah berjihad bersama Nabi SAW sampai beliau wafat, lalu bersama Abu Bakar RA sampai beliau wafat, lalu bersama Umar RA sampai beliau wafat, lalu setelah itu tugas kami lah untuk meneruskan. Tetapi ia menolak, lalu ia meninggal di tengah lautan, dan mereka tidak menemukan daratan kecuali setelah 9 hari lamanya, tetapi jenazahnya sedikitpun tidak berubah, sehingga ia bisa dikuburkan di daratan[9]. RahimahuLLAAHu Abu Thalhah, semoga kami yang muda ini bisa meneladani semangat juang beliau, aamiin ya RABB…
(Bersambung Insya ALLAAH…)
___
Catatan Kaki:
[1] Tafsir At-Thabari, XIV/257
[2] HR Bukhari no. 3653; Muslim no. 2381; Ahmad dlm Musnad-nya I/4
[3] HR Bukhari no. 2810 & Muslim no. 1904
[4] Tafsir Al-Qurthubi, I/2433
[5] Tafsir Al-Baghawy, IV/53
[6] Tafsir Ibnu Katsir, IV/157

Malas Berjihad Menyebabkan Turunnya Adzab ALLAAH SWT (Sambungan Drp Adakah Istirahat Dr Berjihad - Abi AbduLLAAH)

إِلَّا تَنْفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلَا تَضُرُّوهُ شَيْئًا وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Berkata Imam At Thabari bahwa berfirman ALLAH SWT mengingatkan kepada kaum mu’min dari golongan sahabat Nabi SAW, untuk tidak meninggalkan jihad, bersegera memenuhi panggilan qiyadah, dan taat kepada ALLAH & Rasul-NYA, untuk melawan bangsa Romawi: Jika kalian tidak berangkat maka ALLAH akan menyegerakan azab bagi kalian di dunia & mengganti kalian dengan kaum yang lain, yang tidak meninggalkan jihad, bersegera memenuhi panggilan qiyadah, serta taat kepada ALLAH & Rasul-NYA[14]. Berkata Imam Al-Qurthubi bahwa ini adalah pernyataan yang amat tegas dan ancaman yang amat kuat bagi siapa-siapa yang meninggalkan jihad untuk menegakkan Kalimat ALLAAH[15]. Imam Al Alusy menyatakan bahwa jika kalian meninggalkan jihad, maka akan diazab dua kali yaitu di dunia & di akhirat lalu akan diganti dengan kaum lain yang lebih baik & lebih taat pada perintah jihad, karena DIA Maha Kaya dari membutuhkan kalian sedikitpun dan kemalasan kalian itu tidak berpengaruh terhadap ketetapan-NYA sedikit pun[16]. Imam Khazin menambahkan bahwa sebagian ulama menyatakan bahwa ayat ini telah di-nasakh oleh ayat QS 9:122, tetapi jumhur ulama menyatakan bahwa ayat ini muhkamat karena ia adalah khithab untuk semua, oleh sebab itu maka tidak ada nasakh baginya[17]. Ada seorang sahabat yang pada asalnya juga ingin mangkir, yaitu Abu Khaitsamah RA, namun saat ia pulang ke rumahnya ia melihat istrinya telah menyiapkan ranjang yang empuk, menyiapkan makanan yang enak & buah-buahan serta minuman yang dingin, lalu ia berkata pada dirinya sendiri: “RasuluLLAH SAW di tengah sengatan panasnya matahari & kerasnya tiupan angin musim panas padang pasir, sementara Abu Khaitsamah di bawah naungan yang teduh, makanan yang enak dan istri yang cantik.. Tidak! Tidak boleh begini!” Lalu ia langsung membereskan perbekalannya dan memacu tunggangannya mengejar RasuluLLAH SAW dan pasukannya[18].

Catatan Kaki :

[14] Jami’ul Bayan, XIV/254
[15] Jami’ul Ahkam, I/2432
[16] Madarikut Tanzil, I/444
[17] Lubab At-Ta’wil, III/269
[18] Tafsir Al-Qaththan, II/138

Malas Berjihad adalah Ciri Cinta Dunia (Sambungan Drp Adakah Istirehat Drp Berjihad)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآَخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ

Dalam ayat ini ALLAH Yang Maha Rahman, berkata Imam Abu Ja’far[8] bahwa makna “an-nafar” adalah: dari berangkat untuk berperang, sehingga maknanya adalah: Mengapakah kalian wahai orang beriman jika dikatakan kepada kalian keluarlah kalian untuk berjihad di jalan ALLAH kalian berlambat-lambat karena lebih senang berada di negeri kalian atau di rumah kalian atau duduk-duduk saja[9]. Imam Al Baghawi menafsirkannya: Berangkatlah dengan bersegera dengan bersungguh-sungguh & bersemangat untuk mendukung hizbuLLAH & menegakkan agama-NYA untuk membenarkan panggilan iman kalian[10].

Imam Al-Qurthubi menambahkan bahwa lafzh “ma lakum” merupakan harfu-istifham yang maknanya penegasan sekaligus celaan, sementara lafzh “tsaqaltum ilal ardh” artinya berlambat-lambat karena nikmat dunia[11], sementara Imam Al Baghawi menafsirkannya lebih suka tinggal di rumah kalian[12]. Sayyid Quthb memberikan gambaran yang mendalam tentang ayat ini, kata beliau: Ketahuilah bahwa beratnya dunia, keindahannya, perhiasan serta harta bendanya, semua itu akan membuat rasa takut akan kematian pada diri seseorang, takut kehilangan hartanya, takut kehilangan posisi & jabatannya, senang dengan istirahat & kemapanan, berat karena rencana-rencana jangka pendek yang telah dibuat serta tujuan-tujuan sesaat yang telah dirancang, yang kesemuanya mempengaruhi badannya, darahnya serta seluruh tubuhnya, sehingga seolah-olah ia menjadi terbenam ke dalam bumi, inilah makna yang tercermin dari potongan kata “tsaaqaltum”, yaitu bagaikan jasad yang telah terbenam, sehingga sulit untuk digerakkan, apalagi menerima komando untuk bangun & bergerak[13].

Catatan Kaki :

[8] Jami’ul Bayan, XIV/251
[9] Imam Ibnu Katsir menambahkan: Lebih suka menikmati wangi buah-buah an (asyik berbisnis/niaga), lih. Al-‘Azhim, IV/153
[10] Nuzhmud Durar, III/453
[11] Jami’ul Ahkam, I/2431
[12] Ma’alimu Tanzil, IV/48
[13] Azh-Zhilal, IV/30


Blogger Templates by Isnaini Dot Com. Powered by Blogger and Supported by ArchitecturesDesign.Com Beautiful Architecture Homes